Jumat, 29 Juli 2016

Teruntuk Mereka Yang Konsisten Membesarkan Anak-Anak Abjadnya Hingga Menjadi Sebuah Kalimat Yang Dewasa :)



Aku Sebagai Kata


Kepada penyair,


Di rahim sukmamu yang penuh cinta
Benihku menggeliat gairah
Satu dua detak jantung penuh rasa di dada
Kau pinjamkan padaku yang hanya abjad
Mengusahakan sebuah hidup
Berjudi pada hidup

Bersegera lahir sebagai kalimat
Merapal doa dalam diam kulakukan
Mengundang keajaiban jadi tujuan
Menjadi alasan kau bahagia jadi impian

Aku sebagai kata
Berhutang hidup pada sebuah raga
Pada sebuah nama
Engkau.


Bandar Lampung, 28 Februari 2016

Minggu, 17 Juli 2016

Pertanda.

         Aku merasakan sesak yang amat sangat di dada. Jari-jariku gemetar, ada dorongan ingin menangis sekuatnya. Perasaan ini semacam pertanda, seperti sebelumnya. Setelah ini pasti akan terjadi sesuatu, entah baik dan buruk. Aku belum siap. Aku belum sepenuhnya pulih. Aku belum sanggup menghadapi kejutan lagi.
        Dugaan mulai menghampiri. Aku merasa ini akan jadi puncak dari seluruh perasaanku padamu. Ini akan jadi jawaban apakah selama ini rinduku benar, apakah selama ini cara mencintaiku benar, dan apakah doa-doa baik yang selama ini kupanjatkan akan bermuara pada kenyataan. Aku takut setengah mati. Rasanya seperti menunggu vonis.
         Ri-ku, tolong aku.

Minggu, 31 Januari 2016

Kita dan Kopi Pagi



Kita dan Kopi Pagi
Oleh Anisa K. Putri

            Aku tidak sedang ingin mengobrol tentang topik yang berat saat ini. Tapi aku ingin sekali bercakap-cakap dengan kalian. Menertawai sesuatu bersama-sama, melihat gurat tawa itu tergaris di wajah cerah kalian. Aku suka setiap kali kita mengobrol dengan aroma diskusi. Atmosfer yang sangat kusuka. Ringan tapi selalu ada pencerahan yang lahir dengan sukacita.
            Ada suatu pagi dimana aku sebenarnya tidak ingin buru-buru melewatinya. Pagi itu seperti biasa kami sekeluarga (aku, ibuku, kakak perempuanku dan adik laki-lakiku) bangun subuh, sesuai keperluan masing-masing. Ibuku terbangun pukul 3 pagi karena ingin tahajud kemudian setelahnya memfokuskan tubuhnya di wilayahnya yang bernama dapur. Kakak perempuanku terbangun pukul empat tepat, seperti kebiasaannya. Sementara aku dan adikku berbarengan terbangun pukul empat lebih empat puluh lima menit. Semua sibuk masing-masing menuju rutinitas, namun sesuatu terjadi.
            Sudah menjadi kebiasaan bagi kami bertiga (aku, ibuku dan kakak perempuanku) setiap pagi, membuat kopi sesuai selera masing-masing. Tapi apa yang entah direncanakan si pemilik takdir pagi itu. Mungkin ibuku sedang banyak pikiran, kakak perempuanku dihinggapi beban tugasnya sebagai guru di sekolah tempatnya mengajar, atau mungkin aku yang sedang... memikirkan seseorang. Aku meninggalkan gelas kopi-ku di dapur, itu karena aku bergegas pergi untuk mandi. Kakak perempuanku meninggalkan gelas kopi miliknya di meja makan, itu karena ia sedang menyiapkan kertas-kertas nilai milik murid-muridnya.  Sementara ibuku sedang mengaduk kopi miliknya.
            Selesai merapihkan diri, aku menjumpai sarapanku. Sementara aku menikmati sarapan pagi penuh karbo, aku melihat kakak perempuanku melintas menggenggam gelas berisi kopi. Aku tidak bertanya. Kulanjutkan sarapanku.
            Semua kusadari begitu aku mencari gelas kopiku. Ia hilang! Aku menginterogasi ibuku, bertanya keberadaan gelas kopiku. Ibuku menggeleng. Kucecar adik laki-lakiku, ia nyaris melempar sendok makannya ke arahku disebabkan aku mencecarnya dengan setengah berteriak. Aku menghambur ke arah kakak perempuanku. Dan begitu saja kutemukan ia (gelas kopiku) tengah digenggam mesra jemari kakak perempuanku. Aliran kopi melaju deras ke tenggorokannya. Aku tersenyum, kakak perempuanku bingung.
            “Mpok, itu kopiku. Masa gak hafal harumnya.” Kataku masih tersenyum.
Kakak perempuanku menepuk keningnya.
            “Ya Allah.. pantesan. Udah agak dingin. Kok kamu gak bilang ini kopi kamu?” kata kakak perempuanku dengan nada sedikit menyesal.
            “Kok Mpok gak sadar kopinya udah gak panas lagi? Kok gak hafal rasa kopi sendiri?”aku mencecarnya dengan pertanyaan beruntun.
Kakak perempuanku memasang wajah cemberut.
            “Yaudah jadi gimana ini? Kamu bikin kopi aja lagi gih..” katanya lagi.
            “Halah repot, yaudah pagi ini aku minum kopi rasa kopimu dulu.” Kataku sambil menahan tawa.
            “Lagian tumben banget sih pagi ini gelasnya sama semua. Bikin bingung aja. Sori ya, Sa.” Kakak perempuanku meneguk kopi “rasaku” sampai habis.
            Ya, aku juga baru menyadari kalau pagi itu gelas kopi kami bertiga sama. Aku tidak menggunakan gelas kopi favoritku, begitu juga kakak perempuanku itu. Ibuku beruntung tidak sempat “teracuni” kopi milikku yang kental luar biasa. Kopi milik ibu manis, kopi milik kakak perempuanku pahit namun tidak lebih kental dari kopi-ku. Sementara adik laki-lakiku masih menggilai teh.
            Pagi itu kami luput dari aroma kopi masing-masing. Pagi itu serempak konsentrasi alpa dari kepala kami. Pagi itu ingin kuingat selalu. Karena kopi kami tertukar, tapi cinta kami tidak pernah “tertukar” apalagi salah takar. Justru semakin besar.
            Kulihat ibu dan adik laki-lakiku masih menertawai kelucuan kami pagi itu.
           

Kembali Seimbang



Kembali Seimbang
Oleh Anisa K. Putri

           
            Aku tidak menemukan pembukaan yang tepat untuk tulisanku kali ini. Hanya saja muncul sekelumit tanya yang mengganggu, saat pembicaraan menjurus pada keinginanku untuk memiliki kendaraan beroda dua yang bernama motor. Mula-mula pembicaraan ini terasa santai. Sesekali aku melempar pertanyaan pada lawan bicara di depanku. Sederhana saja pertanyaannya seperti: apa dengan sejumlah uang yang minim (kusebutkan sejumlah nominal), aku sudah bisa memiliki kendaraaan beroda dua itu. Pertanyaan lagi seperti bagaimana cara merawat kendaraan yang baik, kemungkinan-kemungkinan terburuk apa yang akan kutemui jika aku lebih memilih kendaraan roda dua tipe “bebek” atau jika pilihanku jatuh pada tipe “matic”. Sebetulnya ini mungkin sedikit memalukan, mengingat seharusnya aku sudah paham mengenai apa-apa saja mengenai kendaraan satu itu. Kenyataannya aku masuk kategori makhluk yang “ketinggalan zaman”.
            Sebenarnya aku pernah belajar mengenai dunia “permotoran” ini. Aku sudah pernah melewati masa-masa jatuh bangun dan terguling-guling saat pertama kali mencicipi rasanya mengendarai motor. Dan sampai pada sebuah kejadian dimana aku menghancurkan motor kakak laki-lakiku secara tidak sengaja karena belum mahirnya aku mengendarai si roda dua bermesin itu lewat sebuah kecelakaan. Masih jelas teringat raut wajah kakak laki-lakiku yang dinaungi amarah saat itu. Aku sendiri sibuk menangis dan menahan sakit karena beberapa luka sobek di lutut dan siku tangan. Sejak saat itu, bagiku mengendarai motor rasanya seperti hendak bunuh diri.
            Tapi situasinya sudah lain sekarang. Ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk memiliki kendaraan roda dua bermesin itu. Meskipun aku sudah memiliki kendaraan beroda dua favoritku yaitu sepeda, lagi-lagi keharusan selalu berhasil menyingkirkan apa yang sudah ada. Alhasil, aku membawa luka masa laluku kesini, ke masa ini. Aku harus menaklukan trauma dan rasa takutku di masa lalu. Aku harus kembali belajar untuk seimbang. Apapun yang terjadi di masa lalu, masa kini mengharuskanku untuk berada di posisi seimbang. Aku mungkin akan kembali terjatuh, tapi aku akan lebih kuat sekarang karena sakit yang akan kualami nanti (jika aku tidak menjaga keseimbanganku) hanya pengulangan rasa sakitku di masa lalu.
            Jadi, kalau ada seseorang yang bertanya padaku dari mana awal mula lahirnya ‘kekuatan’, aku sudah punya jawaban. Rasa kuat datang dari rasa sakit yang berulang-ulang.

Kamis, 10 Desember 2015

OBAT



      Pekan ini merupakan tujuh hari paling penuh cerita sepanjang aku menjalani ketujuh hari itu setidaknya hingga usiaku yang belum genap dua puluh dua ini. Aku dihampiri dua orang teman lamaku dengan "oleh-oleh" yang mereka bawakan untukku. Aku dan mereka memang jarang bertemu, jadi wajar kalau mereka membawakan sesuatu untukku. Oleh-oleh itu berwujud masalah.
      Teman pertama datang dengan "oleh-olehnya". Duduk di ruang tamu rumahku, kusuguhi ia segelas air putih. Ia mulai bercerita dengan sungguh-sungguh. Bahwa katanya ia baru saja bertengkar hebat dengan ibunya. Penyebabnya, ibunya dirasa terlalu mengekang temanku itu. Apapun pilihan temanku selalu bertolak belakang dengan keinginan ibunya. Yang paling membuat temanku itu risau adalah pada pertengkaran kali ini ibunya menangis sejadi-jadinya di hadapan temanku itu. Berharap anaknya mendengarkan apa kata ibunya. Selesai bercerita, ganti temanku yang hujan airmata di hadapanku.
      Dua hari kemudian, salah seorang teman masa sekolah menengahku datang berkunjung. Berfirasat bahwa ia akan "hujan airmata" juga, aku membawanya ke spot lain di rumahku. Rooftop. Setelah menggelarinya tikar lengkap dengan Teddy Bear-ku dan bantal-bantal agar suasananya nyaman, kemudian ia mulai bercerita. Kusajikan sesajen berupa setoples biskuit dan beberapa cokelat sekedar untuk berjaga-jaga, juga segelas air putih tentunya. Tidak ada preambule atau mukadimah, langsung saja ia menangis padaku sembari berkeluh kesah. Adalah bahwa kekasihnya sudah lama berselingkuh dengan teman kerja dari temanku itu. Aku mengerti kesedihannya, karena yang kutahu hubungan temanku dan mantan kekasihnya itu sudah sangat serius. Bahuku menjadi sandaran tangisnya. Sementara aku mencoba terlihat kuat dengan menyembunyikan rapuhku dalam diam. Kutelanjangi bungkus cokelat dan kuberikan isinya pada temanku agar ia memakannya. Agar ia tenang.
       Aku pun bermasalah, tapi aku tak harus menceritakannya kan? Lagipula bukankah kita semua punya masalah?
       Siapa yang tidak pedih hatinya melihat ibunda tercinta, yang sudah kita susahkan bahkan sejak di dalam kandungannya menangis karena ulah kita, anaknya? Siapa yang tidak luka hatinya melihat seseorang yang sudah diyakini adalah "belahan jiwa", pergi begitu saja? Jujur, aku tidak bisa memberikan solusi kepada kedua temanku itu. Aku hanya menenangkan mereka dan mengembalikan lagi semuanya kepada pemilik masalah masing-masing. Aku rasa wajar sekali kalau ada salah paham anatara anak dan orangtua. Orangtua kan hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Kita pun sebagai anak tidak sepenuhnya bersalah, karena bagaimana kita begitulah hasil didikan orangtua. Tapi teman, semestinya kita sadar bahwa kekhawatiran orangtua pada pilihan kita bukan tanpa sebab. Orangtua kita sudah lebih lama hidup dibandingkan kita. Sudah banyak bahagia dan luka yang mereka rasakan. Dan asal kau tahu saja, jika ada satu pesan yang tak tersampaikan lewat amarahnya, pesan itu pasti: "Mereka ingin kita tidak terluka seperti mereka. Terluka lebih parah tepatnya."
      Juga tentang temanku dan mantan kekasihnya itu. Seburuk-buruknya sesuatu, pasti masih ada sedikit kebaikan di dalamnya. Lumrah saja kalau sakit hati, wajar saja kalau terluka. Tapi sebaiknya jangan kita lahirkan rasa dendam di hati kita. Betul memang bahwa masa lalu meninggalkan sakit sebagai "kenang-kenangan", tapi siapa bilang ia hanya meninggalkan itu untuk kita (seseorang yang disakiti). Dibalik itu semua, ia juga mewariskan kekuatan untuk kita menjadi lebih kuat. Secara tidak sengaja ia mengajari kita rumus untuk kuat menghadapi luka, dan ujian yang diberikan (kehilangan dirinya) semata-mata hanya untuk membuat kita lulus dan naik kelas. Kalau kita berhasil, kita akan semakin matang dan kuat karena ulahnya. Tapi coba lihat dia, sedang bersusah payah memulai cerita dengan seseorang yang (mungkin) 'mentah' belum diuji, dan meninggalkan kita yang secara emosionalnya semakin matang dan kuat karena kehilangannya. Jadi, siapa yang rugi sebenarnya?
      Tidak ada yang salah dan kebetulan tentang apa yang terjadi pada diri kita, apapun yang terjadi di semesta ini. Segala sesuatu ada kebaikannya. Segala sakit pasti ada obatnya. Biarkan segala luka menguatkan kita, kemudian ijinkan bahagia menghampiri kita. Karena waktu dan doa adalah penyembuh semua luka. Tetaplah kita semua setia di jalur kebaikan.


Andai semua anak tahu, surga akan menjauh darinya saat hati sang ibunda terluka karenanya..
Andai siapapun yang melakukan perselingkuhan (menyakiti hati orang lain) menyadari bahwa karma selalu berlaku...
Andai semua orang menyadari bahwa rasa bersalah selalu datang sesaat setelah dusta dilakukan...
Andai semua orang yang terlalu mencintai mengerti, bahwa apapun yang dicintainya hanyalah titipan dan bisa lenyap kapan saja bahkan ditengah helaan nafasnya...
Andai saja..

Rabu, 02 Desember 2015

Jarak dan Kita

Halo... apa kabar? Aku harap kalian selalu sehat. Ahh ya, kalian pasti sudah bertemu dengan Gal. Dia temanku, si pendongeng ulung. Semalam ia menemuiku dan bilang kalau ia harus pergi ke Andromeda untuk sebuah urusan dan untuk waktu yang tidak ditentukan. Entah kapan ia akan kembali. Nah, sebagai gantinya aku akan menemani kalian mengobrol santai saja. Tidak.. aku tidak akan mendongeng panjang lebar seperti Gal. Kita hanya akan mengobrol sebagai... teman. Sekarang nyamankan posisi dudukmu. Aku sudah siapkan sekotak cokelat dan segelas air putih untukmu. Kalau butuh sesuatu katakan saja. Aku akan menyiapkannya untukmu, karena kau adalah tamu istimewaku.

salam hangat,
AKP.


Jarak dan Kita



       Di sebuah pesan singkat.
       "Aku nggak bisa LDR-an sama kamu, aku nggak kuat. Kita putus aja ya."


      Di sebuah taman, senja mengintip.
      "Kamu udah beda sekarang. Aku kehilangan kamu yang dulu. Aku pikir kita udah melekat, tanpa jarak. Tapi sekarang kamu udah berubah, dan kamu sendiri yang bikin jarak itu hadir di tengah-tengah kita."

  
      Aku pernah menemukan dan mendengar dua kasus di atas secara langsung (jangan tanya siapa dan dimana, itu rahasia antara aku dan semesta hehe..). Mungkin kalian juga pernah mendengarnya. Sedikit banyak , jarak memang selalu jadi masalah dalam sebuah hubungan. Saat pendidikan jadi pilihan nomor satu dan dengan terpaksa harus menomorduakan hubungan, maka LDR (Long Distance Relationship) pun menjadi sebuah kutukan, jika hubungan itu terus berlanjut. Entah berapa banyak yang pernah mengalami kasus yang kedua. Saat dimana hubungan mulai terasa jenuh dan hambar, perbedaan menghadirkan jarak, dan pertengkaran-lah yang jadi puncaknya. Yang jelas, itu ada. Nyata.
      Sebenarnya apa itu jarak? Ilmu fisika menjelaskan bahwa jarak adalah panjang lintasan yang dilalui oleh suatu benda. Dari sini saja kita bisa mengambil kesimpulan bahwa jarak ada sebagai "jembatan" untuk mencapai atau menuju sesuatu. Andai kita terapkan makna jarak ini pada sebuah hubungan, maka mungkin akan lahir pertanyaan-pertanyaan seperti: "Kalau sepasang kekasih menyerah pada jarak yang hadir lewat LDR, bukankah artinya mereka kalah dari harapan akan sebuah hubungan yang kuat? Bukankah jarak yang akan membawa mereka menuju ke satu tujuan? Lalu bagaimana bisa mereka mengharapkan hubungan yang kuat, jika pada jarak saja sudah menyerah? Bukankah hubungan yang kuat adalah sebuah tujuan? Bagaimana bisa sampai tujuan kalau tidak melintasi jarak?
       Pada kasus yang kedua, jarak yang hadir karena perbedaan. Pasti aneh sekali kalau semua hal di dunia ini selalu sama. Tidak ada yang salah dengan kesamaan, kadang itu baik sekali untuk merekatkan sebuah hubungan. Tapi jangan pernah meremehkan perbedaan, karena sekecil apapun perbedaan itu harus tetap ada. Untuk menjaga keseimbangan. Seringnya, perbedaan yang hadir dalam sebuah hubungan justru tertutupi oleh "zona nyaman" sebuah hubungan. Kadang sepasang kekasih terlalu melekat, hingga mereka merasa "kembar". Kembar yang tak ingin dipisahkan. Nah, saat perbedaan sudah nyaris tak terlihat lagi dan kehilangan pengakuan, disinilah jenuh bekerja. Jenuh akan menghadirkan godaan-godaan yang akan memancing perbedaan untuk muncul kembali. Pertengkaran adalah bukti eksistensi perbedaan. Jadi, setelah mengetahui cara kerja perbedaan (yang merupakan jarak) dalam sebuah hubungan, masihkah kita terlalu kanak-kanak untuk menyikapi perbedaan diantara kita?  Akankah kalian membiarkan perbedaan (jarak) merusak atau malah menguatkan kita? 
      Aku cerewet sekali berbicara panjang lebar seperti ini. Tapi masih ada satu lagi yang ingin aku diskusikan tentang Jarak dan Kita. Ini akan sangat serius sekali. Jadi, sebelum aku mulai ada baiknya kau minum segelas air putih dulu, menyamankan posisi duduk atau meregangkan otot, dan cobalah untuk lebih rileks.
      Sudah? Baiklah, mari kita lanjutkan.
      Kalau tadi kita sudah menerapkan jarak ke dalam hubungan antar manusia, sekarang mari kita terapkan "jarak" ke dalam hubungan kita dan Tuhan. Dalam sebuah ayat Al-quran dijelaskan: "Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) "Aku itu Dekat".  Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
 (Q.S. Al-Baqarah:186)
      Nah kan, sebagai manusia selama ini kita hanya disibukkan bertengkar dengan pasangan kita hanya karena jarak. Pernahkah kita "bertengkar" dengan Tuhan karena jarak yang menyusahkan perjumpaan kita dengan-Nya? Kita sibuk memikirkan bagaimana untuk terus dekat dan menebas jarak dengan pasangan kita, tapi apa pernah kita menebas jarak dengan Tuhan agar kita selalu dekat dengan-Nya? Tapi disinilah keistimewaan hubungan kita dengan Tuhan. Meski tak tersentuh, kehadiran-Nya begitu dekat. Meski tak bersua rupa, kita tetap bisa mencintainya.
      Aku pikir kita butuh waktu untuk merenungkan ini. Aku tidak sedang menggurui, bukankah sedari tadi kita hanya mengobrol sebagai teman? Baiklah untuk kita saling mengingatkan. Aku ingin membuat kesimpulan untuk obrolan tentang Jarak dan Kita ini. 
      "Karena akan selalu ada jarak diantara kita, sedekat apapun kita. Ingat, Tuhan itu sangat pencemburu. Ia akan selalu cemburu pada hambanya yang lebih mencintai makhluk-Nya dibandingkan mencintai-Nya. Untuk itu Dia hadirkan pada kita sebuah jarak dan perbedaan sebagai pengingat, bukan cobaan. Agar kita selalu bisa ikhlas saat melepaskan, lapang dada saat kehilangan, dan agar kita belajar bahwa jarak ada untuk mencapai tujuan. Jarak bukan apa-apa. Hanya pengingat untuk menguatkan. Dan... hanya kepada Dia-lah kita menyerahkan segala urusan." 
   

Sabtu, 14 November 2015

Puisi untuk Bulan.



Bulan dan Bintang


Bintang,
Pada setianya hening malam kau datang
Menjelma jutaan cahaya selayak kunang-kunang
Menggantung kukuh pada langit kelam malam
Menunggu sang bulan datang

Bulan,
Yang hadirnya kadang tak sempurna lingkaran
Yang kadang lenyap bersembunyi nyaman di balik awan
Tenang, diam, berlalu tanpa bintang

Pada setiap rindu malam-malamku
Kau bulan, dan aku bintang yang menunggu bulanku pulang




Gerimis


Gerimis
Dalam remang rintiknya, aku terbalut tangis
Subuh ini, kupasrahkan rinduku pada gerimis
Yang pada setiap hadirnya, wajahmu tergaris
Lembut syahdu, menyentuh palung kepiluanku

Gerimis
Padanya kusampaikan tawa dan tangis
Akan rindu yang makin mengiris-iris
Jika gerimis sampai di kotamu,
Jika gerimis sampai di kelopak matamu,
Pasti ia membawa sesuatu untukmu
Setangkup rindu dariku
Akulah gerimis yang lahir dari matamu ..



Aku, Kau, dan Hujan

Cinta
Subuh ini aku dibangunkan hujan petir
Dingin, sangat dingin
Disini setiap hari hujan turun
Di kota ini setiap saat dingin
Sementara itu
Di hatiku, setiap saat rindu
Setiap hari ingin memelukmu
Dingin
Beku
Harapanku padamu

 


Ada

Ada senyummu membias di rintik hujan
Tersipu padaku yang sedang berlagu cinta untukmu
Ada suaramu mendesah lembut di telingaku
Membisikkan cinta sebanyak rintik hujan itu
Aku tak punya warna
Lalu kau datang menawarkan pelangi merah muda
Ada cinta diantara kita
Berhias indah lagu cinta, rintik hujan
dan pelangi merah muda



Samar

Kulihat wajahmu membayang di antara rintik hujan, samar.
Kudengar desah nafasmu mampir ke tengkukku, samar.
Bayanganmu, datang secepat angin
dan lenyap secepat kilat
Hanya bias senyummu yang kulihat sempat terbentuk
di gumpalan awan gelap
Hujan ...
Rintiknya basah mengecup tanah
Membentuk sketsa wajahmu, samar.
Apakah samar ini bagian dari rinduku?
Atau memang hadirmu terlalu samar untuk ku’nyata’kan ?